Cogito Ergo Sum

Keistimewaan Nabi Muhammad SAW

Sayyidina Abdul Muthalib RA adalah seorang pribadi Agung yang menjadi tumpuan harapan seluruh masyarakat mekkah kala itu, sering kali dikala situasi sulit, masyarakat bertawasul (meminta pertolongan) kepada Sayyidina Abdul Muthalib RA tuk mendoakan kebaikan pada ALLAH SWT agar segera memperbaiki keadaan masyarakat kala itu. (Download disini Sirah Sejarah Nabi & Risalah Nabi Muhammad SAW. Download Terjemah 40 Hadits Qudsi disini.)

Sebagian waktu mulia Beliau sering dihabiskan tuk berkhalwat di gua Hira, guna mendekatkan diri kepada ALLAH SWT, dimana beliau pun sangat bersyukur ke hadirat ALLAH SWT atas anugerah Nya karena diamanahi ALLAH SWT sebagai pribadi yang dititipkan Nur Suci Baginda Muhammad al Musthofa SAW.

Waktu berlalu hingga tiba saatnya Sayyidina Abdul Muthalib RA mendapat petunjuk lewat mimpi dari ALLAH SWT tuk menikahi seorang wanita agung lagi mulia dan suci nasabnya yang keindahan dan kecantikannya terkenal saat itu, ia adalah Sayyidatina Fatimah binti Amr.

Dari pernikahan Agung ini, lahirlah putra Beliau Abdullah ibn Abdul Muthalib RA yang ketampanannya menyerupai Nabi Yusuf As. Sosok Sayyidina Abdullah sangat membuat iri semua pria dan menjadi magnet pemikat semua wanita quraish kala itu.

Syaikh Ahmad Zaini Dahlan dalam kitab Sirah An Nabawiyah juz 2 hal 42 meredaksikan kesempurnaan Sayyidina Abdullah bin Abdul Muthalib RA dengan sebuah redaksi yang mengagumkan : “…Bahwa sesungguhnya Sayyidina Abdullah ibn Abdul Muthalib RA adalah insan paling sempurna diri dan pribadinya (pada masa itu). Dari wajah beliau nampak jelas kemilau “Nur” Sayyidina Muhammad Al Musthofa SAW. dan tidak sedikit para wanita terpikat hati pada beliau”.

Amanah ALLAH SWT yang menjadi pegangan kuat para pribadi Agung ini “Jangan kau letakkan Cahaya Suci kekasihku al Musthofa SAW kecuali pada wanita yang agung lagi suci Nasabnya” berpedar keras di setiap sanubari para pemuka Bany Hasyim mulia.

Hingga walau pun datang pada Sayyidina Abdullah muda beragam tawaran berbalut gemerlap harta, beliau menampik semua permintaan kaum kafirin tuk menikahi putri putri mereka. Bagi Para Pribadi Agung ini, Seluruh harta dunia tidak bernilai dari Amanah Suci ALLAH Robbul Arshil Karim SWT.

Pada Usia Beliau yang menginjak remaja, tepatnya di usia 18 tahun, Beliau memilih seorang wanita anggun lagi cantik nan mulia nasab dan suci perangainya, ia adalah Sayyidatina Aminah binti wahab bin Abdi manaf bin Zuhrah melalui mimpi petunjuk dari ALLAH SWT.

Hingga dari Pernikahan Suci ini, Ibunda Mulia ar Rasul SAW mengandung Nabi Agung Al Habiballah Sayyidina Muhammad al Musthofa Shallallahu alaihi wa aalihi wassalam. Selama dalam kandungan ini, kondisi masyarakat kala itu pun berubah total dari kondisi yang tidak bisa dikatakan makmur menjadi makmur merata, Seluruh Tetumbuhan tumbuh subur, sungai pun mengalir lebih deras dan hewan hewan peliharaan menjadi lebih gemuk dan deras air susu nya, inilah sedikit dari begitu dahsyatnya karomah Baginda Suci Al Musthofa SAW walau beliau masih berada dalam kandungan [Syaikh Ahmad Zaini Dahlan Juz 1 hal 45].

Ibnu Hajar al haitami dalam An Ni’matul Kubro alal Aalaam hal 44 meredaksikan : “… Ibunda Rasulillah SAW berkata : ” sesungguhnya tatkala aku mengandung putraku tercinta pada bulan pertama tepatnya bulan rajab al asham, suatu malam datang (dalam mimpi) seorang laki laki yang indah wajahnya, semerbak harumnya dan diliputi cahaya kemilauan, ia pun berkata “selamat datang wahai Baginda Nabi Agung Muhammad SAW. Salam sejahtera ALLAH SWT senantiasa melimpah kepadamu”. Aku lantas bertanya :’ Siapakah engkau wahai tuan ?’ Ia pun menjawab ‘sesungguhnya aku adalah Nabi Adam (as) bapak seluruh umat manusia’ kemudian Nabi Adam (as) berkata : ‘ Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung Junjungan seluruh umat manusia..’

Dan pada bulan kedua, Sayyidah Aminah As pun mengalami mimpi serupa, kali ini Washi Nabi Adam As, Nabi Syits As datang menyambangi beliau as, seraya menyampaikan salam dan sanjungan serta berkata : ‘Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sesungguhnya engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi ALLAH SWT ilmu ta’wil dan al Hadith’.

Dalam Usia kandungan menginjak 3 bulan, ALLAH SWT memanggil Ayahanda Rasulillah SAW, Sayyidina Abdullah RA ke haribaanNya.. hingga para Malaikat pun menyatakan kesedihannya kepada ALLAH SWT : ” Duhai ALLAH, Tuhan dan Sesembahan Kami, Nabi terkasihMu kini telah yatim tanpa seorang ayah”.

ALLAH SWT berfirman kepada para Malaikat Mulia : ” Ketahuilah olehmu wahai para malaikatKu, Sesungguhnya Aku (ALLAH SWT) sendiri yang akan menjaga, melindungi dan merawatnya, serta akan Aku limpahkan bantuan/pertolongan dan rezeki kepadanya. Dan Aku sendiri pula yang akan mencukupi (segala urusannya). Maka panjatkanlah selalu oleh kalian Sholawat kepadanya dan dapatkanlah keberkahan bagi kalian dengan berwasilah (tawassul) menyebut namanya” [Madarijush shu'uud hal 12 - Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi]…

Hari hari berlalu hingga dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa disetiap bulan mengandungnya Sayyidah Aminah binta wahab As, beberapa orang Nabi As datang menyambangi beliau (melalui mimpi) dan menyampaikan salam serta kegembiraan atas anugerah ALLAH SWT atas akan hadirnya Nabi Agung penyelamat Manusia Al Musthofa SAW

Diantaranya..

Nabi Idris As datang menyambangi saat usia kandungan 3 bulan, beliau As memberikan kabar gembira ” Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak menjadi pemimpin yang sangat Agung”.

Diusia kandungan 4 bulan; Nabi Nuh As datang menyambangi seraya menyampaikan kabar “Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi ALLAH SWT pertolongan dan kemenangan besar”.

Di Usia kandungan 5 bulan; Nabi Hud As datang menyambangi seraya berkata “Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi Syafa’at yang agung pada hari kiamat”.

Nabi Ibrahim Al Khalil As; datang menyambangi saat usia kandungan Sayyidah Aminah As genap 6 bulan seraya berkata “Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi yang diAgungkan ALLAH SWT”.

Genap 7 bulan; Nabi Ismail As datang menyambangi seraya berkata “Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi ALLAH SWT keunggulan dan kesantunan yang sangat luar biasa”.

Usia Kandungan 8 bulan; Nabi Musa putra Imran As menyambangi seraya berkata “Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi Agung yang kelak dianugerahi ALLAH SWT kitab suci al Quran”.

Usia Kandungan genap pada 9 bulan; Nabi Isa As datang seraya menyampaikan ” Sungguh beruntung engkau wahai Aminah, berbahagialah sungguh engkau telah mengandung Nabi yang sangat mulia dan utusan ALLAH yang sangat Agung. Rahmat serta belas kasih ALLAH SWT dan salam sejahtera Nya senantiasa melimpah kepadanya. Sungguh ALLAH SWT akan menjauhkan darimu segala kesengsaraan, kepayahan dan juga akan memberimu segala kemudahan” [~ Ibnu Hajar al Haitami An Ni'matul Kubra Alal Aalaam hal 44].

Demikianlah seluruh datuk Suci Rasulillah SAW datang menyampaikan salam penghormatan kepada Sayyidah Aminah As semasa Beliau SAW masih berada dalam kandungan, ini pula menjadi hiburan bagi Ibunda Suci Aminah As melewati kesendiriannya pasca wafatnya Sang Suami Agung Abdullah ibn Abdul Muthalib As.

Hingga pada detik detik kelahiran Sucinya, Sayyidah Aminah As tidak pernah merasa letih atau pun kepayahan. Malam yang menggembirakan bagi semesta telah tiba, inilah malam lahirnya sang Nabi Suci Paripurna yang kedatangannya dinantikan seluruh mahluk.. Dalam kesendirian mendekati saat kelahiran, ALLAH SWT mengutus 4 orang wanita Agung yang membantu persalinan Nabi Suci SAW. Mereka Adalah Siti Hawa, Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah binti Muzahim, dan Ibunda Nabi Isa as Maryam.

Kelak ke 4 wanita agung ini yang akan pula menemani Sayyidah Khodijah Al Kubro At thohiroh As dalam prosesi kelahiran Az Zahro Al Mardhiyah Ummu Aimmah Alaihassalam.

Siti Hawa As berkata kepada Sayyidah Aminah As “..Sungguh beruntung engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Al Musthofa SAW. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini Hawa, ibunda seluruh umat manusia, Aku diperintahkan ALLAH AWJ tuk menemanimu.”

Selang tak lama kemudian hadirlah Siti Sarah istri Nabi Ibrahim As, Beliau berkata “.. Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Saww, seorang nabi agung yang dianugerahi kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi agung yang ilmunya sebagai sumber ilmunya para Nabi dan para kekasihNya SWT. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuliah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Sarah istri Nabiyullah Ibrahim As, aku diperintahkan ALLAH AWJ untuk menemanimu”.

Wanita ketiga pun hadir dalam harum semerbak seraya berkata “..Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung SAW, kekasih ALLAH yang paling agung dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari ALLAH SWT dan dari seluruh mahlukNya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan ALLAH SWT menemanimu..”.

Dan Wanita ke empat pun hadir dengan tampilan kecantikan luar biasa serta berwibawa, ia adalah Siti Maryam ibunda Nabi Isa As, ia berkata kepada Sayyidah Aminah As “.. Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapatkan kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Saww yang dianugerahi ALLAH SWT mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa, Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi, hanya untuk beliau semata segala bentuk sholawat (rahmat ta’dhim) ALLAH SWT dan salam sejahteraNya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam ibunda Isa As. Kami semua ditugaskan ALLAH SWT untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Nabi Suci al Musthofa Saw”.

Inilah malam Mahallul Qiyam, Malam yang keagungannya membuka semua gerbang langit dan bumi. Hingga penjuru ufuk barat, timur, utara dan selatan Istana kaca persi hingga istana emas romawi berguncang hebat. Kabah pun menyatakan kegembiraannya dengan berguncang melebihi 3 kali. Inilah malam yang sangat dinantikan alam.

ALLAH SWT berfirman kepada Malaikat Jibril al Amin: “Wahai Jibril…Serukanlah kepada seluruh arwah suci para Nabi, Rasul dan para Wali agar berbaris rapi menyambut kehadiran KekasihKu Al Musthofa SAW. Wahai Jibril. Bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat Al Qurab dan Al Wishal kepada kekasihKu yang memiliki maqom luhur disisiKu. Wahai Jibril..perintahkanlah kepada Malik agar menutup semua pintu neraka. Wahai Jibril.. perintahkanlah kepada Ridwan agar membuka seluruh pintu surga.. Wahai Jibril pakailah olehmu Haullah ar Ridwan (Pakaian agung yang meliputi kegaungan ALLAH SWT) demi menyambut kekasihKu Muhammad SAW. Hai Jibril… turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat Muqarrabin, Karubbiyyin, Para Malaikat yang selalu mengelilingi Arshy Ku demi menyambut kedatangan kekasihKu SAW. Wahai Jibril.. kumandangkanlah seruan ke penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan ke segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakanlah kepada seluruh mahlukKu bawa sesungguhnya sekarang adalah saatnya kedatangan Nabi Akhir Zaman, Muhammad al Musthofa SAW..”

Perintah ALLAH SWT ini segera di laksanakan Malaikat Mulia Al Amin hingga di semesta terliputi pedaran cahaya Agung kemilauan dari sayap-sayap mereka.

Persaksian tidak kalah hebat dialami Ummu Agung Sayyidah Aminah binti Wahab As yang dengan izin ALLAH SWT beliau diperkenankan melihat seluruh penjuru bumi, dari mulai syria hingga palestina.

Ulama Sunni dalam kitab Maulid Ad diba’iy, Syaikh Abdurahman addiba’iy hal 192-193 meredaksikan :

“Sesungguhnya saat malam kelahiran Nabi Suci Muhammad SAW, Arshy seketika bergetar hebat nan luar biasa meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya, Kursy ALLAH bertambah kewibawaan dan keagungannya dan seluruh langit dipenuhi cahaya bersinar terang dan para malaikat seluruhnya bergemuruh mengucapkan pujian kepada ALLAH SWT “.

Fenomena alam memberikan kesaksian yang tiada terungkapkan lagi, saat malam Kelahiran Nabi Suci SAW. Seketika semua sinagog dan rumah Ibadah non Muslim berguncang hebat, dan Istana romawi pun seketika dilanda gempa dahsyat hingga tanda tanda ke runtuhan mereka telah tampak.

Semua riwayat ini muktabar diambil dari kumpulan kitab kitab saudara kami Ahlusunnah wal jamaah yang dengan tinta dan darah mereka telah mewariskan kepada seluruh pecinta Nabi akan keagungan detik detik kelahiran Nabi Suci Al Musthofa Saww.

Sumber : Baihaqi, Ibnu Hajar al Haitami, Sirah Nabawiyah Syaikh Ahmad Daini Zahlan, dll

Salam atas mu wahai Nabi Agung..

Salam atas Engkau wahai Kerinduan perjumpaan…

Salam atas Engkau wahai Nabi Rahmah..

Assalammualayka ya Rasulullah Saww wa rohmatullahi wa barrokatu..

Perbandingan Antara Nabi Muhammad SAW Dengan Para Nabi ALLAH SAW

Dari Imam Musa bin Ja’far AS, dari ayahnya Imam Ja’far Shadiq AS, dari ayah-ayahnya, dari al-Husain bin Sayyidina Ali bin Abi Talib AS, dikatakan bahwa seorang Yahudi dari Syam pernah membaca Taurat, Zabur,Injil dan kitab-kitab para nabi as, juga banyak mengetahui argumentasi mereka, datang ke sebuah majelis para sahabat Rasulullah diantara mereka ada Sayyidina Ali bin Abi Talib AS, Ibnu Abbas dan Abu Maabad al Juhani. (Download disini Sirah Sejarah Nabi & Risalah Nabi Muhammad SAW. Download Terjemah 40 Hadits Qudsi disini.)

“Wahai umat Muhammad, kalian tidak tinggalkan satu derajat atau satu keistimewaan yang ada pada seorang nabi melainkan kalian berikan pula kepada nabi kalian,”ujarnya. Lalu Yahudi bertanya, Apakah kalian akan menjawab pertanyaan-pertanyaan aku ini?”

“Benar,” jawab Sayyidina Ali AS “Tidaklah Allah SWT memberikan suatu derajat dan keistimewaan kepada seorang nabi atau rasul melainkan Allah berikan juga semuanya kepada Nabi Muhammad SAWW, bahkan Dia melebihkannya atas para nabi berlipat ganda.”

“Apakah Anda siap menjawab pertanyaanku?”tanyanya.

Sayyidina Ali AS menjawab,“Ya.” Akan aku sebut dihadapanmu sekarang juga tentang keistimewaan Rasulullah SAW sehingga kaum Muslimin senang dan orang-orang ragu-ragu (skeptis) tidak akan meragukannya lagi. Dan Rasulullah SAW pada saat menyebutkan keistimewaan dirinya beliau selalu berkata , “tidak bermaksud bangga” (wa la fakhr).

Dan aku akan menyebutkan keistimewaan – keistimewaan Beliau tanpa menjatuhkan dan mengurangi kedudukan para Nabi as. Namun, sekadar mensyukuri Allah Azza Wajalla atas anugerah yang Dia berikan kepada Baginda Muhammad SAW seperti yang diberikan kepada para Nabi bahkan Allah SWT

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Adam As

Aku akan bertanya kepadamu, siapkanlah jawabannya! Ujar si Yahudi itu.

“Sampaikan pertanyaanmu, tegas Sayyidina Ali bin Abi Thalib AS. Yahudi berkata, “Lihatlah Adam as, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Apakah Allah SWT berbuat yang sama terhadap Muhammad?”

Sayyidina Ali AS menjawab,“Ya”. Ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam As bukan berarti mereka menyembah Adam as, tetapi mereka mengakui keutamaan Adam As dan karena kasih sayang Allah SWT kepadanya. Namun Nabi Muhammad SAW telah diberi kehormatan yang lebih dari itu. Allah SWT bersholawat atasnya di alam jabarut dan juga malaikat seluruhnya. Bahkan Allah SWT menjadikan sholawat atasnya sebagai suatu ibadah bagi orang-orang mukmin. Itu adalah suatu keistimewaan Muhammad SAWW, wahai orang Yahudi.” Jawab Sayyidina Ali AS.

Sesungguhnya Allah SWT telah mengampuni Adam As setelah melakukan kesalahan,” kata si Yahudi.

“Benar. Allah SWT memberi ampunan kepada Muhammad SAWW tanpa Beliau melakukan kesalahan. Allah azza wa jalla telah berfirman, “Allah hendak mengampunimu dosa yang telah lalu dan yang akan datang.”(QS. Al-Fath : 2).

Sesunggguhnya Muhammad SAW di hari kiamat kelak tidak akan membawa dosa dan tidak dituntut karena dosa.

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Idris As

Yahudi berkata , “Lihatlah Idris as, Allah SWT telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi dan memberinya makanan surga setelah dia wafat.”

“Ya, itu benar. Jawab Sayyidina Ali AS. Muhammad SAWW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu.” Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman: “Dan telah kami angkat sebutanmu” (QS. Alam Nasyrah : 4).

Itu sudah cukup untuk dijadikan sesuatu kemuliaan. Kalau Idris As diberi makanan surga setelah dia wafat, maka Muhammad SAW diberi makanan surga ketika dia hidup di dunia.Pernah ketika Beliau lapar, datang Malaikat Jibril menemuinya membawa hidangan dari syurga. Hidangan itu ternyata bertahlil, bertasbih, bertahmid dan bertakbir di tangan Beliau. Kemudian Beliau memberikannya kepada Ahlulbaitnya, lalu hidangan itu juga bertahlil, bertasbih, bertahmid dan bertakbir.

Malaikat Jibril berkata bahwa hidangan ini hadiah dari surga yang diberikan Allah SWT khusus kepada Muhammad SAW. Hidangan ini tidak layak diberikan kecuali kepada Nabi dan penggantinya.

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Nuh As

“Lihatlah Nabi Nuh As. Dia bersabar karena Allah SWT, dan dia memaafkan kaumnya disaat mereka mendustakannya.” Kata Si Yahudi.

“Ya, itu benar!” jawab Sayyidina Ali AS. “Demikian pula Nabi Muhammad SAWW bersabar karena Allah SWT telah memaafkan kaumnya pada saat mereka mendustakannya, mengusirnya dan melemparinya dengan kerikil. Abu Lahab pernah meletakkan diatas kepalanya kotoran kambing, lalu Allah SWT memerintahkan Malaikat Ja’abil (malaikat penjaga gunung) untuk menemui baginda Muhammad SAW. Malaikat Ja’abil mengatakan kepada baginda Muhammad SAW “bahwa dirinya diperintahkan oleh Allah SWT untuk mentaatimu. Apabila Anda ingin agar aku menghimpit mereka dengan gunung, maka akan aku binasakan mereka,” kata Ja’abil.

“Aku diutuskan sebagai rahmat,” ucap Beliau. Nabi bahkan mendoakan mereka: “Ya, Allah SWT, berikan umatku ini hidayah karena mereka belum mengetahui.”

Orang Yahudi itu kembali berkata, “Nabi Nuh As berdoa kepada Tuhannya, lalu turunlah hujan deras dari langit.”

“Ya itu benar. Nabi Nuh as berdoa dalam keadaan marah sementara hujan deras diturunkan Allah SWT karena kasih sayang,” jawab Sayyidina Ali As.“ Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, datang penduduk Madinah pada hari Jumaat kepada Beliau. “ Wahai Rasulullah, sudah lama hujan tidak turun. Pohon-pohon menguning (kering), dedaunan berjatuhan,” keluh mereka. Lalu Beliau mengangkat kedua tangannya sehingga nampak putih lipatan pangkal kedua tangannya. Langit yang semula bersih tidak berawan tiba-tiba menjadi gelap dan turunlah hujan yang deras, begitu derasnya sehingga seorang pemuda yang gagah perkasa hampir mati ketika pulang ke rumahnya karena derasnya hujan yang mengakibatkan banjir. Kejadian itu berlangsung selama seminggu.

Mereka kembali mendatangi Beliau pada hari Jumaat berikutnya, “ Ya Rasulullah, rumah-rumah menjadi hancur, kenderaan-kenderaan terhenti!” keluh mereka lagi. Beliau tersenyum sejenak,” Beginilah cepatnya manusia bosan,” kata Beliau. Lalu Beliau berdoa, “Ya Allah SWT, jadikanlah ini semua menguntungkan kita dan tidak membahayakan kita.”

Maka hujanpun mulai reda di sekitar kota Madinah sendiri hujan berhenti secara total. Itulah mukjizat Nabi Muhammad SAW.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Hud As

Yahudi berkata “Lihatlah Nabi Hud as, karena Allah SWT telah menolongnya dengan mengirimkan angin, apakah Allah SWT berbuat yang serupa terhadap Nabi Muhammad?” tanyanya.

“Ya itu benar!” jawab Sayyidina Ali AS. “ Nabi Muhammad SAWW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Allah SWT juga telah menolongnya dari musuh-musuhnya dengan angin dalam perang Khandaq. Allah SWT mengirimkan angin kencang sehingga kerikil-kerikil berterbangan, lebih dari itu Allah SWT memperkuatkan pasukan Beliau dengan delapan puluh ribu pasukan malaikat. Allah SWT berfirman : “Wahai orang-orang beriman, ingatlah nikmat Allah SWT atas kalian, ketika datang kepada kalian tentera-tentera, lalu Kami kirim kepada mereka angin dan pasukan yang tidak kalian lihat”. (QS. Al- Ahzab:9).

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Saleh As

Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Saleh as, “ujar Yahudi. “Allah SWT telah menciptakan untuknya seekor unta dari batu sebagai mukjizat.”

Sayyidina Ali AS menjawab, “Ya itu benar.” Kemudian Beliau melanjutkan, “Nabi Muhammad SAW telah diberikan sesuatu yang lebih dari itu. Kalau unta Nabi Saleh tidak berbicara dan tidak bersaksi akan kenabiannya, maka ketika kita bersama Beliau dalam sebuah peperangan, tiba-tiba datang seekor unta mendekatinya bersuara dan berbicara, “Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulan telah menggunakanku sampai aku besar dan kini hendak menyembelihku. Aku berlindung kepadamu darinya. Orang itu memberikannya kepada Beliau.

Juga ketika kami bersama Beliau, tiba-tiba datang seorang Arab dari pendalaman menuntun untanya. Orang pendalaman itu hendak dipotong tangannya karena ulah para saksi yang telah memberikannya saksi palsu. Kemudian unta itu berbicara dengan Beliau, “Ya Rasulullah, sesungguhnya orang ini tidak berdosa. Para saksi yang ada ini memberikan kesaksian secara paksa. Sebenarnya pencuriku adalah seorang Yahudi.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Ibrahim As

Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Ibrahim As, karena dia telah mengetahui Allah SWT dengan perenungan (I’tibar). PembuktianNya telah meliputi keimaman terhadap-Nya.”

Sayyidina Ali As berkata,“Ya benar. Nabi Muhammad SAW telah diberikan sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah mengenal Allah SWT dengan i’tibar sebagaimana Nabi Ibrahim as. Namun, Nabi Ibrahim as mengenal Allah SWT dalam usia lima belas tahun sementara Nabi saw mengenal-Nya semenjak usia tujuh tahun. Pernah sejumlah pedagang Nasrani datang. Mereka menurunkan dagangan mereka di antara bukit Shafa dan Marwa.’ Sebagian dari mereka melihat Beliau, Muhammad SAW lalu mereka mengetahui sifat, karakter, dan berita akan kebangkitannya sebagai nabi dan mereka mengetahui beberapa mukjizatnya.

Para pedagang Nasrani itu bertanya kepada Muhammad SAW “Wahai anak kecil, siapa namamu?” Beliau menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya , “Siapa nama ayahmu?” Beliau menjawab,”Abdullah.” Mereka bertanya, “Apakah nama ini (mereka bertanya sambil menunjuk bumi)?” Beliau menjawab, “Bumi.”

Mereka bertanya, “Apakah nama itu (mereka bertanya sambil menunjuk langit )?” Beliau menjawab, “Langit.” Mereka bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi dan langit?” Beliau menjawab, “Allah SWT.” Lalu Muhammad SAW menyentak mereka, “Apakah kalian meragukanku tentang Allah SWT? Celaka kamu, wahai Nasrani.” Beliau telah mengetahui Allah SWT dengan i’tibar pada saat kaumnya kufur, bersumpah dan meyembah patung-patung, tetapi Beliau berkata, “Tiada Tuhan selain Allah SWT.”

Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim as telah terhijabi dari mata Namrud sebanyak tiga kali.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya benar. Namun Nabi Muhammad SAWW telah terhijabi dari mata orang-orang yang hendak membunuhnya sebanyak lima kali. Sama tiga jumlahnya dan bahkan lebih dua.

Kelima hijab yang dimaksudkan adalah ketika Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan penutup dihadapan mereka”, adalah hijab (penutup) yang pertama. “Dan dari belakang mereka,” adalah hijab yang kedua. Lalu Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat, (QS. Yaasin: 9) adalah hijab yang ketiga. Hijab yang keempat adalah firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan jika kamu membaca Al-Quran, Kami jadikan di antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman dengan akhirat sebuah hijab yang menutupi” ( QS. Al-Isra’ :45).

Sedangkan hijab yang kelima adalah firman Allah SWT yang berbunyi, Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. (QS.Yaasin:8).

Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Nabi Ibrahim as telah membungkam mulut orang kafir dengan kenabiannya.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Benar! Pernah Nabi Muhammad SAW didatangi orang yang hendak mendustakan hari kebangkitan setelah kematian, orang itu adalah Ubai in Khalaf al-Jumahi, dia membawa tulang yang hancur lalu berkata, “Wahai Muhammad, siapakah yang akan menghidupkan kembaki tulang-belulang ini padahal sudah hancur?” Lalu Allah SWT menurunkan atas Muhammad SAW sebuah ayat yang membungkam mulut orang itu,

Yang akan menghidupkannya kembali adalah Yang menciptakannya kali pertama. Dia Maha Mengetahui akan segala sesuatu (QS Yasin : 79) Akhirnya orang itu pun pergi terbungkam.

Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim telah menghancurkan patung-patung kaumnya dengan marah karena Allah SWT.” Sayyidina Ali AS berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad telah merobohkan tiga ratus enam puluh patung di dalam Ka’abah dan membersihkan semenanjung Arabia dari patung-patung serta mengalahkan orang-orang yang menyembah patung dengan pedang.”

Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim as pernah dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api, tetapi dia pasrah dan bersabar, akhirnya Allah SWT menjadikan api itu dingin dan menyelamatkannya. Apakah Allah SWT berbuat yang sama terhadap Muhammad?”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya benar. Ketika Nabi Muhammad pergi ke Khaibar, seorang wanita Khaibar meracuninya, tetapi Allah SWT menjadikan racun itu dingin (tidak bereaksi) di dalam perutnya sampai di akhir ajalnya. Padahal racun itu, jika berada di dalam perut akan membakar seperti api membakar. Itu adalah kekuasaanNya, janganlah kamu mengingkarinya.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Musa As

Orang Yahudi berkata,”lihatlah Nabi Musa bin Imran as, karena Allah telah memberinya Taurat yang memuat hukum-hukum.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Nabi Muhammad SAWW telah diberi surat al-Baqarah dan al- Maidah yang sama dengan Kitab Injil, Beliau juga diberi surat Thawasin (surat-surat yang didahului dengan huruf Tha, Sin), surat Thaha, sebagian surat-surat al-Mufashshal (yang sedang sehingga sering dipisah-pisah ) dan al-Hawamin (surat-surat yang dimulai dengan Ha, Min) yang sama dengan Kitab Taurat; Beliau diberi sebagian surat-surat al-Mufashshal dan surat-surat yang didahului dengan Sabbaha yang sama dengan Kitab Zabur; Beliau diberi surat Bani Israil dan surat Bara’at yang sama dengan shuhuf Ibrahim as dan shuhuf Musa as, kemudian Allah SWT menambah Beliau dengan as-Saba’ ath-Thiwal (tujuh surah yang panjang) dan surah al-Fatihah.

Orang Yahudi berkata,”Sesungguhnya Nabi Musa as dipanggil untuk bermunajat kepada Allah di atas bukit Sina.”

Sayyidina Ali AS berkata, ”Ya’ itu benar. Allah SWT telah mewahyukan kepada Nabi Muhammad SAW di Sidhratul Muntaha’ disebut-sebut.”

Orang Yahudi berkata, Nabi Musa As telah diutus untuk menghadapi Firaun dan memperlihatkan kepadanya tanda yang besar.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Itu benar. Nabi Muhammad SAW juga diutus untuk menghadapi beberapa Firaun, seperti abu Jahal, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah, Abi al-Bukhturi, Nidhir bin Harits, Ubai bin Khalaf, dan diutus kepada lima orang yang di kenal dengan para pengolok, al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumi, Al-‘Ash bin Wa’il Al-Suhami, Aswad bin Abd Yaghuts az-Zuhri, Aswad bin Al-Muthalib, dan Al-Harist bin Thalathilah. Maka Beliau memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda yang besar di alam raya ini dan di dalam diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Dia itu benar.”

Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Musa bin Imran telah diberi tongkat yang berubah menjadi seekor ular.”

Sayyidina Ali menjawab, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW telah di beri sesuatu yang lebih hebat dari itu. Pernah ada seseorang menuntut hutang kepada Abu Jahal bin Hisyam seharga seekor kambing yang dia beli dari orang itu. Tetapi Abu Jahal tidak memperdulikannya. Dia tengah asyik duduk sambil minum-minuman keras. Setiap kali orang itu menagihnya, tetapi tidak berdaya sama sekali dan selalu diacuhkan oleh Abu Jahal. Beberapa orang disekitar itu berkata kepada orang tersebut sambil menghina, “Siapa yang kamu tagih?”

“Amr bin Hisyam (Abu Jahal). Dia mempunyai hutang kepadaku. ”Mereka berkata, “Maukah kami tunjukkan orang yang menjalankan hak-hak?” Orang itu berkata. “Ya”. Mereka lalu menunjukkan Nabi Muhammad SAW, Abu Jahal berkata dalam hatinya, “Mudah-mudahan Muhammad datang kepadaku dan melutut kepadaku, sehingga aku dapat memalukannya.” Orang yang sedang menuntut haknya itu datang kepada Nabi Muhammad seraya berkata, “Wahai Muhammad, aku mendengar bahwa hubungan antara Anda dengan Amr bin Hisyam baik. Aku datang meminta bantuan darimu.”

Kemudian Beliau pergi bersamanya menghadap Abu Jahal. Bangunlah wahai Abu Jahal. Berikan orang ini haknya.” (Sejak saat itu Amr bin Hisyam dipanggil Abu Jahal, yang berarti bapak kebodohan).

Lalu Abu Jahal segera bangun dan memberikan orang itu haknya. Ketika Abu Jahal kembali ke tempatnya semula, teman-temannya berkata, “Kamu mengerjakan itu karena takut kepada Muhammad?” Abu Jahal berkata, “Celaka kalian, maafkan aku. Sesungguhnya ketika dia datang, aku lihat di sebelah kanannya orang-orang membawa pisau yang bersinar dan disebelah kirinya ada dua ekor ular yang menampakkan giginya dan dimatanya keluar sinar. Sekiranya aku menolak, maka perutku tidak aman dari tikamannya dan aku akan diterkam ular itu, dan itu lebih berat bagiku dari memberikan hak.”

Ketika Nabi Muhammad SAW mengajak ketauhidan dan membasmikan kemusyrikan, para tokoh kaum musyrikin marah, lalu Abu Jahal berkata, “Demi Allah mati lebih baik bagi kita dari pada hidup. Tidak adakah diantara kalian, wahai kaum Quraisy, seorang yang akan membunuh Muhammad?” Mereka menjawab, “Tidak ada.” “Kalau begitu saya yang akan membunuhnya.” Seandainya keluarga Abdul Mutalib akan menuntut balas, biarlah aku yang terbunuh, kata Abu Jalal. Mereka lalu berkata, “Sesungguhnya jika kamu melakukan itu, maka telah berbuat kebaikan yang akan selalu diingati.”

Kemudian Abu Jahal pergi ke Masjid al-Haram dan melihat Rasulullah berthawaf sebanyak tujuh putaran, kemudian Beliau solat dan sujud sangat lama.Kemudian Abu Jalal mengambil batu dan membawanya kearah kepala Nabi Muhammad SAW, ketika dia telah mendekatinya, datanglah unta jantan dari arah Beliau dengan membuka mulutnya ke arah Abu Jalal. Melihat itu Abu Jalal ketakutan dan dia pun gementar maka batu itu jatuh melukai kakinya kemudian dia pulang dengan muka yang pucat dan berkeringat. Kawan-kawannya bertanya, “Kami tidak pernah melihat kamu seperti sekarang ini.” Abu Jalal berkata,” Maafkan aku, aku sungguh melihat unta jantan yang membuka mulutnya dari arah Muhammad, ia hampir menelanku maka aku lempar batu itu dan mengenai kakiku.”

Orang Yahudi berkata, ”Nabi Musa telah diberi tangan yang keluar darinya cahaya putih. Apakah Muhammad mempunyai kuasa seperti itu?”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya terpancar dari sebelah kanan dan sebelah kirinya cahaya setiap kali Beliau duduk. Cahaya itu disaksikan oleh semua orang.”

Orang Yahudi berkata,” Nabi Musa dapat membuat jalan di laut. Apakah Muhammad dapat berbuat semacam itu?”

Sayyidina Ali AS menjawab,”Itu benar. Nabi Muhammad SAW telah berbuat yang sama. Ketika kami keluar dari perang Hunain, kami menghadapi danau yang kami perkirakan sedalam empat belas kali dari ketinggian badan manusia. Mereka berkata,”Ya Rasulullah musuh di belakang kita sedangkan danau di depan kita seperti yang dikatakan kaum Musa As, “Kami akan terkejar.” Lalu Rasulullah SAW turun dan berdoa,”Ya Allah sesungguhnya Engkau jadikan setiap utusan sebuah bukti maka perlihatkanlah kepadaku kekuasaan-Mu.”

Kemudian kami mengarungi lautan dengan menunggangi kuda dan unta yang kakinya tidak basah. Lalu kami pulang dengan kemenangan.

Orang Yahudi berkata, ”Nabi Musa as telah diberi batu, kemudian batu itu mengeluarkan dua belas mata air.”

Sayyidina Ali AS berkata, ”Ya itu benar.” Ketika Nabi Muhammad SAW turun di Hudaibiyyah dan diboikot oleh penduduk Mekah, Beliau diberi sesuatu yang lebih hebat dari itu. Pada waktu itu, sahabat-sahabat Beliau mengadu kepada Beliau. Mereka kehausan sehingga pangkal tulang paha kuda mereka menonjol. Kemudian mereka mengambil kain Yaman dan meletakkan tangannya di atas kain itu lalu keluarlah air dari celah-celah jari jemari Beliau. Kami merasa kenyang demikian pula kuda-kuda kami bahkan kami penuhi kantong-kantong air.”

Orang Yahudi berkata,”Nabi Musa As telah diberi burung dan manisan dari langit (Al-Manna Wa Salwa’). Apakah Muhammad juga diberi sesuatu yang sama seperti itu?”

Sayyidina Ali As berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya Allah SWT menghalalkan harta rampasan perang untuk Beliau dan umatnya dan tidak dihalalkan untuk sesiapa pun sebelumnya. Dan ini lebih utama dari manna dan salwa’. Kemudian lebih dari itu Allah SWT menganggap niat Beliau dan umatnya sebagai amal kebaikan dan tidak menganggapnya amal kebaikan untuk seseorang sebelum Beliau. Oleh karena itu jika seseorang hendak berbuat kebaikan tetapi belum mengerjakannya maka ditulis untuknya suatu kebaikan dan jika dia mengerjakannya maka ditulis sepuluh kebaikan.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Yaqub As

Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Yakub As. Dia mendapatkan nasab yang sangat besar. Allah SWT menjadikan para Nabi dari tulang rusuknya. Maryam putri Imran adalah termasuk keturunannya.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad SAW mendapatkan nasab yang lebih besar darinya. Allah SWT menjadikan Fathimah, wanita penghulu alam raya, sebagai putrinya, al-Hasan dan al-Husain sebagai cucunya.

Orang Yahudi berkata, “Nabi Yaqub As bersabar karena perpisahan Putranya sampai-sampai dia hampir sakit parah karena sedih.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Yaqub As benar-benar sedih, namun kesedihannya berakhir dengan perjumpaan. Tetapi Nabi Muhammad SAW ketika Putranya yang tersayang, Ibrahim, diambil selagi Beliau masih hidup. Allah SWT mengujinya agar Beliau mendapat simpanan yang besar nanti. Beliau bersabda, “Jiwa pilu dan hati terluka. Dan kami sangat sedih atasmu wahai Ibrahim. Kami tidak mengatakan sesuatu yang memurkakan Allah SWT.” Dalam semua itu, Beliau mengutamakan kerelaan terhadap Allah SWT dan pasrah kepadaNya dalam segala perbuatan.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Yusuf As

Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Yusuf as, dia menyimpan pahitnya perpisahan. Dia di jerumuskan ke dalam penjara demi menghindari kemaksiatan. Dia di lemparkan kedalam lubang yang gelap sebatang kara.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad Saww menyimpan pahitnya keterasingan. Beliau meninggalkan keluarga, anak dan harta untuk berhijrah dari Haramullah (Ka’abah, Mekah). Ketika Allah SWT melihat kesedihan dan perasaan pilu Beliau, Allah SWT memperlihatkan kepadanya sebuah mimpi yang menyamai mimpinya Nabi Yusuf as dalam takwilnya dan Allah SWT membuktikan kebenaran mimpinya kepada seluruh alam raya. Allah SWT berfirman,

Sungguh Allah SWT telah membuktikan Rasulnya akan mimpinya yang benar. Kalian pasti akan masuk Masjid Al-Haram dengan kehendak Allah SWT dalam keadaan aman dan kepada kalian digundul atau (rambut kalian) dipotong. Janganlah kalian takut

Kalau Nabi Yusuf As ditahan dalam penjara, maka Rasulullah Saww dipenjara di Syi’ib selama tiga tahun. Beliau diasingkan dari sanak keluarga dan kerabatnya. Allah SWT telah memperdaya mereka (orang-orang kafir Quraisy) dengan mengutuskan makhluk-Nya yang paling lemah (rayap), lalu rayap itu memakan surat perjanjian yang mereka tulis.

Kalau Nabi Yusuf As dilemparkan kedalam lubang yang gelap, maka Nabi Muhammad Saww telah menyembunyikan dirinya di dalam gua karena ulah musuhnya, sampai-sampai Beliau berkata kepada sahabatnya, “Janganlah kamu sedih. Sesungguhnya Allah SWT bersama kita.” Allah SWT memujinya dalam kitab-Nya.

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Daud As

Orang Yahudi berkata,” Lihatlah Nabi Dawud As sebab Allah telah memberinya kekuatan untuk melunakkan besi kemudian dengan kekuatannya dia membuat baju besi.”

Sayyidina Ali AS berkata,” Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Allah SWT telah memberinya kekuatan untuk membuat gua dari batu gunung yang keras. Batu Shakhrah di Baitul Maqdis menjadi cekung dengan tangan Beliau dan kami telah melihatnya.”

Orang Yahudi berkata, ” Nabi Dawud As menangis karena kesalahan dan kekhilafannya sehingga gunung bergetar karena takut tangisan darinya.”

Sayyidina Ali AS berkata, ”Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya Beliau jika mendirikan salat terdengar dari dadanya suara gemuruh seperti gemuruh bejana yang berisi air panas yang mendidih karena isak tangisnya yang sangat pada hal Allah telah membebaskannya dari siksaan-Nya. Beliau berdiri salat di atas kakinya puluhan tahun sehingga bengkak kedua telapak kakinya dan pucat lasi mukanya. Beliau salat sepanjang malam sehingga Allah menegurnya.” Thaha. Tidaklah Kami turunkan Al-Qur’an agar kamu bersusah payah” (QS.Thaha:1-2).

Terkadang Beliau menangis sampai pingsan. Seorang bertanya kepadanya,” Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, ”Benar. Namun tidakkah aku pantas menjadi hamba yang banyak bersyukur.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Sulaiman As

Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Sulaiman As, karena dia telah diberi kerajaan yang tidak layak diberikan kepada sesiapa pun setelahnya.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberikan sesuatu yang lebih dari itu. Telah turun kepadanya satu malaikat yang tidak pernah turun kepada sesiapa pun sebelumnya, yaitu malaikat Mikail. Malaikat Mikail berkata kepada Beliau, “Ya Muhammad. Hiduplah kamu menjadi seorang raja yang senang. Untukmu kunci-kunci khazanah bumi. Tunduk kepadamu gunung dan batu dari emas dan perak. Itu semua tidak mengurangi apa yang tersimpan untukmu di akhirat kelak sedikit pun.” Lalu dia menunjuk Malaikat Jibril As dan meminta darinya agar bertawadhu. Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata, “Tidak, tetapi aku tetap ingin hidup sebagai nabi dan hamba. Sehari makan dan dua hari tidak makan. Aku ingin bergabung dengan saudara-saudaraku dari kalangan Nabi sebelumku.” Maka Allah memberinya telaga kautsar dan hak-hak syafaat. Ini lebih besar tujuh puluh kali lipat dari kerajaan dunia dari permulaan sampai akhir. Dan Allah menjanjikan kedudukan yang terpuji (al-maqam Al-Mahmud). Di hari kiamat nanti Allah akan menundukkannya di atas Arsy. Itu semua lebih mulia dari yang di berikan kepada Nabi Sulaiman bin Daud As.”

Orang Yahudi berkata, “Angin telah diciptakan untuk Nabi Sulaiman As Angin itu membawa pergi Sulaiman di negerinya dalam sebuah perjalanan, perginya satu bulan dan pulangnya satu bulan.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberikan sesuatu yang lebih dari itu. Dia telah diisra’kan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, yang biasa ditempuh satu bulan, lalu ia dibawa naik ke kerajaan langit, yang memerlukan waktu lima puluh ribu tahun, dalam waktu kurang dari sepertiga malam.

Orang Yahudi berkata, “Telah di ciptakan jin-jin untuk taat kepada Nabi Sulaiman as. Mereka bekerja untuk Sulaiman ketika membuat mihrab dan patung.”

Sayyidina Ali AS berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberikan sesuatu yang lebih dari itu. Jin-jin diciptakan untuk taat kepada Nabi Sulaiman as, tetapi mereka didalam keadaan kafir, sementara jin-jin diciptakan untuk taat kepada Nabi Muhammad SAWW dalam keadaan beriman. Telah datang kepada Beliau sembilan tokoh jin dari Yaman dan dari Bani Amr bin Amir.Mereka itu adalah Syashot, Madhot, Hamlakan, Mirzaban, Mazban, Nadhoat, Hashib, Hadhid dan Amr. Merekalah yang disebutkan dalam Quran,

Dan ketika Kami palingkan kepadanya (Muhammad) sekelompok jin mereka mendengarkan Al-Quran (QS. Al- Jin: 1).  Mereka berbaiat kepada Beliau untuk menjalankan puasa, salat, zakat, haji dan jihad. Ini lebih hebat dari yang diberikan kepada Nabi Sulaiman As.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Yahya As

Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Yahya bin Zakaria As karena diwaktu masih kecil telah diberi hikmah, kebijaksanaan dan pemahaman. Dia menangis tanpa berbuat kesalahan dan dia sentaiasa berpuasa terus menerus.”

Sayyidina Ali AS berkata,“Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberikan sesuatu yang lebih dari itu.Nabi Yahya As hidup pada masa tiada berhala-berhala dan kejahiliahan.

Sementara Muhammad pada masa kecilnya telah diberi hikmah dan pemahaman di tengah penyembah berhala dan syaitan. Beliau sama sekali tidak menyukai berhala, tidak pernah aktif dalam upacara-upacara mereka dan tidak pernah berdusta sama sekali. Beliau senantiasa menyambung puasa dalam seminggu, terkadang kurang dan terkadang lebih. Beliau pernah berkata, “Aku tidak seperti kalian. Aku berada disamping Tuhanku. Dia Yang memberiku makan dan minum.” Beliau selalu menangis sehingga air matanya membasahi tempat salatnya karena takutkan kepada Allah SWT tanpa kesalahan.”

Perbandingan Rasulullah SAW dengan Nabi Isa As

Orang Yahudi berkata,” Lihatlah Nabi Isa bin Maryam as. Mereka meyakini bahwa dia dapat berbicara dalam buaiannya dalam keadaan masih bayi.”

Sayyidina Ali AS berkata,” Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW keluar dari perut Ibunya sambil meletakkan tangan kirinya di atas tanah dan tangan kanannya diangkat ke atas. Beliau menggerakkan kedua bibirnya dengan ucapan tauhid. Lalu terpancarlah dari mulutnya cahaya sehingga penduduk Mekah dapat melihat istana-istana Bashrah dan istana-istana merah di negeri Yaman dan sekitarnya, serrta istana-istana putih di Persia dan sekitarnya. Dunia menjadi terang benderang di malam kelahiran Nabi Muhammad SAWW sehingga jin, manusia dan setan ketakutan. Mereka berkata,”Telah terjadi peristiwa besar di muka bumi ini.” Pada malam kelahiran Beliau, para malaikat naik-turun dari langit, bertasbih dan memuji Allah SWT.

Orang Yahudi berkata,”Mereka menyakini bahwa Nabi Isa as telah menyembuhkan orang bisu dan orang yang menderita penyakit belang dengan izin Allah SWT.”

Sayyidina Ali AS berkata,” Ya itu benar. Muhammad telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah menyembuhkan orang dari penyakitnya. Ketika Beliau duduk, Beliau bertanya tentang seorang sahabat Beliau lalu para sahabat Beliau berkata,” Ya Rasulullah, dia terkena musibah sehingga dia seperti seekor anak burung yang tidak berbulu.” Kemudian Beliau mendatanginya , ternyata orang itu benar-benar seperti anak burung yang tidak berbulu karena beratnya musibah. Beliau berkata,” Apakah kamu telah meminta sesuatu dengan sebuah doa?”.

Dia menjawab,”Ya. Aku pernah berdoa kepada Allah agar segala siksaan yang akan menimpaku di akhirat nanti disegerakan di dunia ini.”

Kemudian Nabi berkata, Bacalah doa ini,”Ya Allah berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jagalah kami dari azab neraka.” Maka orang itu mengucapkannya lalu dia segara bangun dan sehat.

Juga pernah seseorang datang dari Juhainah yang menderita lepra. Dia mengadu kepada Beliau. Lalu Beliau mengambil mangkuk berisi air dan Beliau meludahinya kemudian Beliau berkata,”Basuhlah badanmu dengan air ini!” Orang itu lalu mengerjakannya dan kemudian sembuh seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Orang Yahudi berkata,”Mereka menyakini bahwa Nabi Isa as telah menghidupkan orang yang telah mati dengan izin Allah.”

Sayyidina Ali AS berkata,”Ya itu benar. Sungguh telah bertasbih sembilan kerikil di tangan Nabi Muhammad SAWW suaranya sampai terdengar padahal kerikil itu tidak bernyawa. Beberapa orang yang sudah mati berbicara dengannya dan meminta bantuan darinya dari siksaan kematian. Kamu menyakini bahwa Nabi Isa as berbincang-bincang dengan orang-orang yang sudah mati dan Nabi Muhammad SAW mempunyai pengalaman yang lebih mengagumkan dari itu. Ketika Beliau singgah di Thaif sementara kaum Thaif memboikot Beliau. Mereka mengirim seekor kambing yang sudah dipanggang dan dicampuri racun lalu kambing itu berbicara,”Wahai Rasulullah, janganlah engkau makan aku karena aku talah diberi racun. Beliau telah di ajak bicara oleh kambing yang sudah disembelih dan dibakar. Beliau juga pernah memanggil pohon lalu pohon itu menghampirinya. Binatang-binatang buas berbicara dengan Beliau dan bersaksi atas kenabian Beliau. Ini semua lebih besar dari yang diberikan kepada Nabi Isa as.”

Orang Yahudi berkata,” Nabi Isa as telah memberitahu kaumnya tentang apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.”

Sayyidina Ali AS menjawab, “Itu benar. Nabi Muhammad SAW telah berbuat sesuatu yang lebih besar dari itu. Kalau Nabi Isa as memberitahu apa yang ada di belakang tembok maka Nabi Muhammad SAW telah memberi tahu tentang perang Mu’tah, padahal Beliau tidak menyaksikannya dan Beliau menjelaskan tentangnya dan orang-orang yang syahid di sana padahal jarak antara tempat perang dengan Beliau sejauh perjalanan sebulan.”

Akhirnya orang Yahudi itu mengucapkan dua kalimat syahadat dan bersaksi bahwa tiada kedudukan dan keutamaan yang Allah berikan kepada seorang Nabi melainkan Dia berikan juga kepada Rasulullah saw dengan tambahan.

Ibnu Abbas berkata,”Aku bersaksi, wahai ayah al-Hasan, bahwa engkau adalah orang yang sangat dalam pengetahuannya.”

Sayyidina Ali AS menjawab,”Bagaimana aku tidak mengatakan tentang seorang yang Allah sendiri mengagungkannya dalam Al-Qur’an, Sesungguhnya engkau (Al Musthofa SAW) memiliki akhlak yang agung.”

(Download disini Sirah Sejarah Nabi & Risalah Nabi Muhammad SAW. Download Terjemah 40 Hadits Qudsi disini.)

3 Responses

  1. Would you be enthusiastic about exchanging links?

  2. This is undoubtedly a topic thats close to me so Im happy which you wrote about it. Im also pleased that you simply did the subject some justice. Not only do you know an excellent deal about it, you know the way to present in a way that folks will need to read far more. Im so happy to know a person like you exists on the web.

  3. This is absolutely a blog worth following. Youve got an excellent deal to say about this subject, and so significantly understanding. I think which you know how to make people listen to what you’ve got to say, specifically with an problem thats so critical. Im glad to know this blog. Two massive thumbs up, man!